Cerita Dewasa
Tuesday, December 17, 2019
Cerita romantis
Di Sungai
Thila membanting pintu kamar. Pondok di lembah itu berderak ringan. Angin dingin menyusut lewat jendela menggetarkan bulu-bulu halus di permukaan kulit. Pemandangan menakjubkan ke luar jendela. Aneka tetumbuhan tertegun pandangnya . Beberapa bunga yang diperbarui mekar terkesiap. Ranting-ranting juga berhenti bergayutan. Ada beberapa pohon pisang melengkung ke bawah - ikut resah. Semua memejamkan mata. Nanar menatap pintu kamar. Thе tergugu di dalam kamar pondok sendirian.
Perempuan itu masih manja seperti dulu kala. Perempuan semampai yang rambutnya selalu tergerai. Meskipun pada masa kini, Thole lebih suka melihat disanggul - atau apa pun namanya - pokoknya adakalanya tidak dibiarkan terurai lepas. Karena saat memandang begitu, Thole merasakan suatu keanggunan. Jenjang lehernya yang mulus kian memompa hasratnya. Wajah sayu renyah yang masih tersimpan terus di dalam ceruk ditangkap. Wajah yang pernah membuatnya nyaman. Paras itu yang berpuluh tahun sudah mengatup rapat teralang dinding waktu.
Thole ingin mengumpat pada keadaan. Pada pertemuan yang diadakan teman-teman sekolahnya. Pertemuan yang akhirnya mendorong kebebasan untuk bertanya-tanya. Katup-katup rasa yang dulu sudah menguncup. Redup. Terbalut kalut. Kini Katup-katup itu megar menusuk-nusuk daya nalar. Kuncup mulai mekar, melewati nalar, kadang menjadi pembohong.
Thole Buka pintu kamar. Menuju beranda yang suka duduk sambil memandang gemericik udara dari kejauhan. Thila tidak berada di sana. Hati Thole mulai was-was, ke mana wanita yang makin merajam hari-hari senjanya itu? Semua mengirup udara sakit yang berwarna lembayung di ufuk barat. Matanya berpijar mencari arah yang diinginkan.
Seluruh memompa udara lega. Kamar mandi di sungai, cibar-cibur sendiri. Rambutnya yang tergerai tampak mulai menipis, atau pengaruh udara yang menyebabkan keriapnya tidak melar. Anak duduk di bebatuan dilihat yang bermain air seperti anak-anak remaja. Saya pikir saya terpana. Tubuh yang indah. Raga titisan Hawa yang masih merekah. Tiba-tiba Thila memulihkan dua gumuknya, Thole tersenyum sendiri. Geli.
”Hai, ambilin botol sabun itu! Jangan bengong ! ”
Dengan sigap Thole meraih botol sabun cair. Berniat langsung meloncat ke sungai.
Di perkosa ayah Tiriku
Komentar
Home News Megapolitan
Kisah Pilu Remaja yang Diperkosa Ayah Tiri, Bertahun-tahun Tanggung Beban Sendiri...
Jumat, 11 Oktober 2019 | 09:30 WIB
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi
Penulis: Muhammad Isa Bustomi | Editor: Jessi Carina
TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - H (16), gadis belia asal Ciputat, Tangerang Selatan menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah tirinya berinisial S.
Tindakan bejat tersebut dialami sejak korban duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Usianya ketika itu masih 12 tahun.
S mulai memerkosa anak tirinya setelah istrinya, yang tak lain adalah ibu si anak, meninggal dunia karena penyakit.
Pemerkosaan itu terjadi berulang kali. H tidak berdaya karena diancam dengan pisau untuk melayani nafsu S.
Ayahnya ini ngancam dengan menggunakan pisau biar korban mau melayaninya," kata Ketua Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar), Ferry Irawan saat mendampingi korban lapor ke Polres Tangerang Selatan, Kamis (10/10/3019).
H menjadi takut dan tidak berani menceritakan kejadian yang dia alami ke orang lain. Semua itu disimpan rapat-rapat oleh gadis yang beranjak remaja itu.
Merasa perlakuannya tak akan terbongkar, korban dipaksa terus melayani S. Beban itu ditanggung bertahun-tahun oleh H seorang diri.
Aksi bejat itu baru terungkap setelah H tidak lagi tinggal bersama S.
"Terbongkarnya saat korban ini tinggal di rumah neneknya. Saat itu korban baru berani bercerita, belum lama ini," kata Ferry.
Sempat hamil dua kali
Semenjak mendapatkan ancaman dari S, korban tak berani bercerita atas kejadian yang dialaminya. Kondisi itu berlangsung sampai empat tahun.
Korban mengalami kehamilan pertama beberapa tahun lalu setelah mulai diperkosa ayahnya. Namun saat itu korban yang masih usia belia tak mengetahui tentang tanda-tanda kehamilannya.
"Karena enggak tahu namanya masih anak-anak jadi ya tahunya keluar gumpalan darah saja," kata Ferry menirukan pengakuan korban.
Kehamilan kedua dialami pada awal tahun 2019. Untuk kehamilan keduanya, korban menjaga kandungan hingga melahirkan anak perempuan.
Terbongkar setelah lapor ke nenek
Korban melahirkan anak perempuan pada 4 September 2019.
Anak dari korban itu langsung dirawat oleh bibinya.
Saat itu korban pun ikut tinggal bersama anak yang dilahirkannya di rumah Nurhayati, neneknya. Saat itu perbuat S pun terbongkar setelah korban memberanikan bercerita.
"Saat itu ditanya-tanya sama bibinya. Tapi korban belum mengaku. Sampai akhirnya neneknya mengambil anaknya, akhirnya korban ikut tinggal sama neneknya. Di situ korban baru berani cerita kalau anaknya hasil pemerkosaan dari bapak tirinya," kata Ferry
Nenek korban, Nurhayati mengatakan semenjak kejadian yang dialami oleh cucunya, ia tak pernah lagi bertemu dengan pelaku S.
Nurhayati merasa marah dan kecewa. Dia menyesal telah mengizinkan cucunya tinggal bersama S. Ketika itu, dia memberi izin agar cucunya bisa ikut menjaga kedua adiknya yang tinggal bersama S.
"Kedua adiknya cowok," kata Nurhayati.
Ayah tiri seorang pemulung
Ferry mengatakan pelaku S yang tega memperkosa H, anak tirinya bekerja sebagai pengumpul barang bekas.
"Untuk pelaku S ini kesehariannya mengumpulkan barang bekas atau pemulung," kata Ferry.
Menurut Ferry, penghasilan S yang kecil tak cukup untuk membiayai korban bersekolah.
"Iya jadi putus sekolah. Dia sih sampai lulus SD. Jadi sampai ibunya meninggal korban kelas 5, nah kelas 6 lulus tapi enggak lanjutin sampai SMP karena kesulitan ekonomi," tuturnya.
Seks Malam pertama
Dari balik kemudi, saya bersyukur bahwa semuanya akan segera berakhir. Perjalanan panjang bernama pernikahan ini akhirnya tiba pada sebuah akhir, atau tepatnya sebuah akhir pencarian, yang merupakan awal sebuah perjalanan baru lainnya.
Bagi kebanyakan orang, pernikahan merupakan sebuah tujuan agung untuk menyatukan dua insan manusia. Dalam agama Islam, pernikahan disebutkan sebagai sebuah ibadah yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad. Sebenarnya, ada beberapa alasan mengapa orang memutuskan untuk menikah, ada yang menikah karena cinta, ada yang menikah guna menghindari zina, ada yang menikah untuk memperoleh harta kekayaan Elly Sugigi, juga ada yang menikah untuk mendapatkan keturunan.
Kalau saya, menikah untuk mendapatkan Neng.
Saya membelokkan mobil memasuki sebuah hotel di Jalan Juanda Nomor 390; ini adalah kali pertama saya dan Neng kabur setelah sah menikah beberapa jam sebelumnya. Sehabis memarkir mobil pada tempat yang disediakan, saya langsung menuju reception desk dengan membawa print out bukti pemesanan yang telah saya lakukan sebelumnya. Sebuah bukti pemesanan via email yang bertajuk ‘Honeymoon Package’.
Seorang wanita menyambut kami di reception desk, yang langsung mengecek pemesanan saya pada sistem. Setelah memastikan bahwa data-data yang saya berikan sesuai dengan email pemesanan, juga bahwa saya bukan termasuk anggota kelompok Santoso, kami diantarkan ke sebuah kamar seluas 42m² bernama ‘Towers Room’.Saya langsung meletakkan barang bawaan pada lemari di samping kiri sewaktu kami memasuki kamar tersebut. Lega, nyaman, dan mewah, adalah kesan pertama yang didapat. Sebuah televisi layar datar berukuran besar tergantung di seberang tempat tidur, dengan sebuah sofa bed di antaranya.
Pada tempat tidur berukuran king size (kalau saya tidak salah ukur), tergeletak setangkai bunga mawar dan kelopak-kelopaknya yang disusun membentuk simbol hati. Simbol yang melambangkan cinta. Cinta sepasang suami istri baru yang sedang melangsungkan bulan madu.Merasa tidak tega untuk menjamah tempat tidur yang masih mulus dan rapi, saya memilih untuk menjamah istri, juga bagian-bagian lain dari kamar tersebut. Pada sisi luar kamar, terdapat balkon berisikan sepasang kursi dan sebuah meja kecil dengan pemandangan pedesaan, “Wah, syahdu juga ini kalau buat kerja. Apalagi ada Wi-Fi gratis. Ada wife pula.” Batin saya.
Tapi ini kan honeymoon, masa mau kerja?
Saya memalingkan pandangan lagi ke sudut ruangan, letak sebuah meja kerja dengan kursi-kursinya yang empuk. Andaikan saya tidak sedang berbulan madu, pasti saya langsung membuka laptop dan ngeblog di situ. Pada atas meja mungil itu, sekarang tergeletak dua pasang nampan berisikan camilan dan minuman dengan sepucuk surat di antaranya.
Sepucuk surat dari Akhmad Fadholi, seorang pria, yang ternyata adalah General Manager Sheraton BandungAh yes! Memorable Memory. That’s what I want to get, as much as I can, I will try to make my time here is counted to become an unforgettable precious memory.
Berikutnya, saya mengecek kamar mandi yang pintunya terdapat di samping tempat tidur. Taburan kelopak mawar nampak elegan menghias free standing bathtub di ujung ruangan dengan washtafel di sisi kiri dan walk-in rain shower di sisi kanan. Amenities yang disediakan di sana juga sangat lengkap, seperti sabun, sampo, conditioner, body lotion, sikat dan pasta gigi, hingga pencukur jenggot dan bulu-bulu halus lainnya.
Sungguh tak sabar rasanya ingin segera membawa semua amenities ini pulang untuk oleh-oleh mandi bersama Neng, karena sudah halal.“Neng, umm anu...”
“Apa Mas?”
“…itu yuk…”
TOK-TOK-TOK!
“Mas, kayaknya ada yang ketuk pintu.”
“Ah, masa sih? Cuekin saja yuk.”
TOK-TOK-TOK!
“Coba dicek dulu, Mas.”
ARGH! Dengan berat hati, saya pun berjalan ke arah pintu setelah mengenakan kembali pakaian yang sudah sempat terlepas dengan sendirinya. Di depan pintu telah berdiri seorang pria, lagi-lagi pria, dengan senyum di bibirnya dan sepotong cake di tangannya.
“Selamat ulang tahun Pak Arif.”Whoa a surprise! Who can say no to a birthday cake? “Terima kasih, Pak!”
“Jangan lupa ada evening cocktails di lounge sampai pukul tujuh nanti.”
Oh iya, salah satu keuntungan menginap di Towers Room, adalah free access untuk ke Towers Lounge yang menyediakan kopi, teh, dan camilan secara gratis sepanjang hari, termasuk adanya evening cocktails yang dapat dinikmati mulai pukul 16.00 hingga 19.00.
Saat itu, waktu sudah hampir pukul enam petang, yang berarti tinggal sedikit waktu untuk dapat menikmati evening cocktails di lounge. Nganu-nganu bisa ditunda, namun evening cocktails tidak boleh dilewatkan, karena gratis dan terbatas waktunya.
“Yuk Neng, kita siap-siap.”
Tak berapa lama, kami telah tiba di Towers Lounge, untuk ngemil-ngemil lucu, sebelum melangsungkan romantic dinner yang memang sudah saya pesan pada honeymoon package, selain couple spa keesokan harinya.
“Mau minum teh atau kopi, Pak, Bu?”
“Teh saja, Pak.” Jawab saya, sambil meminta Neng untuk mengambil beberapa macam cemilan pada meja yang tersedia.
Setelah beberapa suap dan hap! saya duduk santai untuk menurunkan makanan, sambil menatap sebuah cincin palladium di jari manis saya. Saya berkata dalam hati “Finally, I did it. That was the craziest thing I ever did.“. Gaya ya, ngebatin saja pakai bahasa Inggris. “Benar kan ya, kalau saya sudah menikah?”.
Saya mencubit pipi sendiri, rasanya sakit. Saya mencubit paha Neng, dia menjerit. Ternyata benar, ini bukan mimpi.
“Pak.”
Seorang pria lain mendatangi saya, usianya nampak lebih muda dari saya. “Ya, Mas?”
“Kalau sudah siap untuk makan malam, mohon dikabari. Karena makan malam akan disajikan di luar ruangan.” Ujarnya sambil menunjuk salah satu bagian lounge yang terletak di luar dan mempunyai view pedesaan yang asri.
“Siap Mas, terima kasih.” Saya berpaling ke Neng, “Mau makan malam sekarang?”
“Boleh.”
“Tunggu ya.” Sedetik kemudian, saya berlari ke kamar, berganti pakaian terbaik yang saya punya. Ini makan malam pertama kami sebagai suami dan istri, yang jatuh tepat di hari kasih sayang sekaligus ulang tahun saya, dan saya tidak mau menyia-nyiakan momen pada malam itu.
Setelah beberapa suap dan hap! saya duduk santai untuk menurunkan makanan, sambil menatap sebuah cincin palladium di jari manis saya. Saya berkata dalam hati “Finally, I did it. That was the craziest thing I ever did.“. Gaya ya, ngebatin saja pakai bahasa Inggris. “Benar kan ya, kalau saya sudah menikah?”.
Saya mencubit pipi sendiri, rasanya sakit. Saya mencubit paha Neng, dia menjerit. Ternyata benar, ini bukan mimpi.
“Pak.”
Seorang pria lain mendatangi saya, usianya nampak lebih muda dari saya. “Ya, Mas?”
“Kalau sudah siap untuk makan malam, mohon dikabari. Karena makan malam akan disajikan di luar ruangan.” Ujarnya sambil menunjuk salah satu bagian lounge yang terletak di luar dan mempunyai view pedesaan yang asri.
“Siap Mas, terima kasih.” Saya berpaling ke Neng, “Mau makan malam sekarang?”
“Boleh.”
“Tunggu ya.” Sedetik kemudian, saya berlari ke kamar, berganti pakaian terbaik yang saya punya. Ini makan malam pertama kami sebagai suami dan istri, yang jatuh tepat di hari kasih sayang sekaligus ulang tahun saya, dan saya tidak mau menyia-nyiakan momen pada malam itu.
Menggantikan tugas Ayahh di Ranjang
Zvikomborero Tome (35) menggantikan tugas ayahnya di ranjang dengan istri mudanya Joyce Katiyo (39). Alasannya, sang ayah yang sudah berusia 80 tahun sudah tak punya kekuatan lagi untuk memenuhi kebutuhan seksual istrinya.
Tome mengatakan, setelah keduanya saling berhubungan seksual, ibu tirinya hamil dan putri keduanya kini telah berusia 3 tahun. Istri Tome yang sebenarnya akhirnya melarikan diri usai menemukan suaminya dengan ibu tirinya melakukan hubungan seksual di belakangnya.
Tome mengatakan, pengambilalihan tugas sang ayah dimulai ketika ayahnya mengaku ia tak mampu lagi memenuhi kebutuhan seksual istri mudanya di ranjang. Alhasil, sang ayah meminta Tome mengambil alih tugas suami istri. Awalnya, Tome mengaku menolak tapi mengalah karena desakan orangtuanya.
Dia mengatakan, ketika pasangan tersebut berada di ranjang tentu dengan sepengetahuan ayahnya. Tapi,
Fungai Chawora, orang yang dituakan di desa itu mengatakan, kedua pasangan tersebut berbohong tentang izin tidur bersama dari sang ayah.
Chawora mengatakan, ayah Tome mengeluh berkali-kali kepadanya tentang hubungannya.
"Saya datang ke sini berkali-kali karena orang tua itu sedih dengan apa yang dilakukan anak dan istrinya. Saya berbicara dengan keduanya dan mereka tidur bersama," ujar Chawora seperti dikutip Myzimbabwe, Senin (26/8/2013).
Ibu Tome meninggal pada 1997 dan ayahnya menikah lagi dengan Joyce pada 2005. Tome mengaku istrinya yang meninggalkannya. Namun ia mengatakan itu bukan karena ia tidur dengan ibu tirinya tapi karena ia sakit.
Joyce yang dimintai keterangan mengatakan nyaman dengan permintaan suaminya karena ia tak ingin menyimpang.
"Ayah Zvikomborero adalah suami saya tapi dia sudah tua. Dia tidak bisa tampil di tempat tidur dan saya berjuang sejak saya masih muda. Dia takut saya akan tidur dengan pria lain. Itu sebabnya ia menyarankan agar saya tidur dengan anaknya. Jadi ketika ia masih hidup, saya akan meninggalkan dia dan pergi dan menghabiskan malam dengan Zvikomborero. Ini berlangsung sampai dia meninggal," katanya.
Kasus keduanya mengejutkan warga di Desa Mutoko membuat pasangan itu diseret ke pengadilan Mutoko. Tak jelas apa yang didakwakan, tapi keduanya diminta melayani di klinik lokal dan rumah sakit.
Namun, pasangan itu mengatakan tak melihatnya sebagai kesalahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)